'inong' pages

Senin, 19 Desember 2011

treasure

Aku membuat perumpamaan hati masing-masing manusia di muka bumi ini adalah sebuah harta karun. Dan masing-masing manusia tersebut adalah bajak laut yang menyimpan harta karunnya. Aku juga mengumpamakan lawan jenis yang akan menjadi pasangan mereka adalah pencari/pemburu harta karun. Aku mengumpamakan sinyal-sinyal dari hati si manusia adalah peta harta karun itu. Sedangkan kecocokan hati mereka adalah kunci dari kotak harta karunnya. Dan saat kotak harta karun sudah terbuka, berbahagialah mereka karena mereka telah menyatu. Takkan pernah habis harta karun si bajak laut untuk si pencari harta karun. Si pencari harta karun yang juga adalah bajak laut justru membagi harta karunnya bersama. Bersama-sama mereka menjalani hidup di muka bumi dengan bekal harta karun yang takkan pernah habis sampai akhir hayat mereka.

Jadi sebenarnya, si bajak laut dapat menjadi pencari harta karun saat mencari harta karun bajak laut lain. Dan si pencari harta karun dapat menjadi bajak laut saat pencari lain menemukan hartanya. Betapa rumitnya perumpamaan yang aku buat. Tapi memang itulah yang terjadi. Semua terasa rumit, seperti benang kusut, di benakku.

Kisahku. Aku adalah seorang bajak laut wanita. Kotak harta karunku kusimpan di tempat yang sangat suci. Ada seorang manusia yang aku sangat inginkan dia yang membuka kotak harta karunku. Tapi itu akan sia-sia jika dia membukanya tanpa keinginan dari dalam dirinya sendiri. Maka aku memberikannya peta harta karun dan kunci kotak hartaku. Tapi dia belum juga berjalan menelusuri jalan seperti yang tergambar di peta. Dia bahkan tidak melihat tanda X di peta. Bagaimana dia bisa melihat tanda itu kalau membuka petanya saja tidak? Aku menunggu dengan sabar. Aku menunggunya menyadari betapa berharganya benda-benda yang ada ditangannya. Yang akan menunjukkan kepadanya letak hartaku untuk dirinya.

Aku menunggu.

Selagi menunggu aku mengganti identitasku menjadi pencari harta karun. Aku mencari harta karun miliknya. Aku bertemu dengannya. Aku berbicara dengannya, bersenda-gurau dengannya, berbagi cerita dengannya. Tanpa dia sadari, aku mengetahui dimana letak harta karunnya dari ceritanya. Aku berpisah dengannya.

Aku berlari, terus berlari, tak lelah karena semangat. Aku mencari harta karunnya. Dan aku menemukannya. Tapi kebahagiaanku hanya sesaat. Rasanya hanya seperti angin lalu saja. Kesedihan memenjaraku saat kusadari kotak harta karun itu terkunci dan aku tidak memiliki kuncinya. Lututku lemas. Aku terduduk di depan kotak harta karun itu.

Rasanya saat mengatakan kotak harta karun, aku sedang berada di pinggir pantai. Aku berlutut di atas pasir putih. Slayer yang kukenakan untuk menutupi kepalaku melambai tertiup angin laut. Saat ini, saat kesedihan menggayutiku, aku merasa ada banyak karang besar dan kasar disekelilingku. Menertawakan kesedihanku. Memanggilku untuk membenturkan diri ke arah mereka. Tanganku mengepal di atas pahaku. Aku menunduk. Ku sadari air mata terjatuh ke atas tanganku yang mengepal, yang menyembulkan urat-uratku yang rasanya ingin putus saat itu. Ku seka air mataku dan menegakkan kepala.

Aku bangkit. Masih dengan kesedihan. Masih dengan bekas air mata di pipiku. Aku berjalan tersaruk-saruk, kembali ke dalam kota. Membawa aroma air asin bersamaku.

Aku masuk ke sebuah kedai makanan. Berusaha tenggelam dalam kesedihan. Tanpa sengaja saat aku memasuki kedai itu, si bajak laut ada disana. Manusia yang telah kuberikan peta hartaku, yang sampai sekarang tidak mau atau belum tahu benda-benda apa yang kuberikan kepadanya. Tak akan berarti jika aku beritahukan kepadanya benda-benda apa itu.

Aku mematung di pintu kedai. Menatap ke arah punggungnya. Aku mematung. Memucat. Saat kesadaranku kembali, aku berbalik. Ingin segera pergi dari kedai ini. Pergi dari kota ini. Berusaha mencari harta karun milik bajak laut lain.

Tapi tepat saat aku memutuskan untuk berbalik, bajak laut itu berbalik. Dengan bibir gelas menempel di bibirnya. Dia melihatku.

Aku segera berbalik. Namun, tepat saat aku akan melangkah keluar kedai, dia memanggilku. Aku tak berdaya mendengar suaranya. Aku terhipnotis. Aku berbalik dan berjalan ke arahnya. Tertunduk.

Aku berdiri di depannya. Dia mengangkat wajahku. Dia bertanya, mengapa wajahku terlihat sedih. Aku tersenyum paksa dan menjawab “Aku tidak apa-apa.”

Entah dia langsung percaya dengan kata-kataku atau tidak, tapi dia tersenyum. Seluruh tubuhku mati rasa. Aku hanya dapat menatapnya. Senyum paksaku bertahan. Dia mengajakku duduk di sebelah jendela.

Kami tidak duduk saling berhadapan. Aku duduk disampingnya. Aku tidak melupakan kesedihanku, tapi toh aku mempertahan senyum paksaku. Dia mulai bercerita.

Tak kusangka, dia bercerita tentang kunci harta karunnya. Aku menengok dan memandang wajahnya. Dia sedang memandang ke arah depan. Entah apa yang dipandangnya, toh dia tetap bercerita dengan semangat. Wajahnya bercahaya tertimpa sinar matahari yang dipantulkan jendela di sebelahnya. Tak ada kata lain yang dapat menggambarkan aku saat itu: aku terpesona. Untuk sejenak aku tidak memperhatikan kata-katanya. Aku memperhatikan bentuk hidungnya. Bibirnya. Bulu-bulu tipis diantara hidung dan mulutnya. Aku menyisakan matanya untuk kulihat terakhir. Pengandaian aku adalah sebongkah es, saat itu aku meleleh dengan pesonanya.

Tiba-tiba dia menoleh. Menyadari ke”diam”anku. Aku kembali ke bumi. Ekspresinya khawatir. Aku hanya menenangkannya dengan senyumku. Senyum yang walaupun tidak tulus tapi toh bukan senyum paksa juga. Aku lupa sama sekali dengan kesedihanku beberapa saat yang lalu. Kesedihan yang menggodaku untuk memeluk erat karang besar nan kasar di pantai tadi selamanya.

Dia kembali menatap lurus ke depan dan melanjutkan ceritanya. Saat kata-kata itu mengalir dari mulutnya, dari bibirnya. Aku menegang. Seluruh tubuhku mati rasa. Otot-ototku menjerit saat aku coba untuk menggerakkannya. Dia menoleh, ingin melihat apa reaksi dan pendapatku mengenai ceritanya. Aku ingin memalingkan wajahku darinya. Aku ingin, paling tidak, menunduk atau memandang lurus ke depan seperti dirinya tadi. Tapi tidak bisa. Ingin rasanya aku menggerakkan tanganku, membuatnya memaksakan kepalaku mengubah arah pandangannya. Sakit hati ini melihat wajahnya yang tersenyum menunggu pendapatku.

“Siapa?” tanyaku kaku.

“Aku juga tidak mengenalnya. Namanya pun aku tidak tahu. Tapi aku tahu dimana dia tinggal. Dan yang aku tahu, dia mengenalku. Aneh ya,” jawabnya dengan senyum.

“Memang. Emm, maaf aku masih ada urusan lain, jadi aku undur diri.”

“Silahkan,” katanya dengan senyumnya. Senyum yang biasanya dapat membuatku meninggalkan dunia ini untuk bertemu dengan awan, bintang, bulan, dan matahari namun tidak untuk saat ini. Saat ini senyum itu justru mengantarkanku ke dalam lubang yang sangat dalam. Mengantarku ke pusat bumi. Rasanya aku tidak dapat muncul ke permukaan lagi.

Aku keluar dari kedai. Berlari lagi. Tersandung-sandung. Terjatuh berkali-kali. Menyeka air mata dengan punggung tanganku yang berdarah. Aku kembali berlutut di depan kotak harta karunnya. Mencoba memeluknya dengan membuka kedua lenganku lebar-lebar. Aku menangis di atasnya. Slayer yang kukenakan tertiup angin. Menampakkan rambut ikalku yang menutupi wajahku karena angin laut.

Rasanya setiap embusan angin saat itu adalah goresan tajam pisau di setiap senti kulitku. Aku menangis terisak-isak.

Aku takut. Sangat takut. Aku takut aku tidak dapat melihat kotak ini terkunci lagi. Aku takut bukan aku yang membuka kotak ini. Aku takut bukan aku yang mendapatkan isi kotak harta karun ini. Aku takut.

Kata-kata bajak laut tadi terngiang kembali di telingaku yang sudah tuli karna angin laut.

“Aku bertemu seorang wanita. Dia mengenalku. Tapi aku tidak mengenalku. Aku menyukainya. Jadi, aku memberikan peta dan kunci kotak harta karunku. Tapi aku tidak memberitahunya benda-benda apa yang kuberikan kepadanya. Biar dia menyadari dengan sendirinya benda-benda apa itu,” katanya dengan senyum sangat lebar.

Aku kembali merasakan sayatan dalam di kulitku karna angin laut. Hanya masalah waktu saja sampai wanita itu menyadari benda-benda apa saja yang ada di tangannya.

Aku tahu banyak wanita di kota itu yang mencari harta karunnya. Bahkan wanita pencari harta dari kota lain. Hanya aku, sebenarnya, yang beruntung karena dapat menemukannya walaupun tidak dapat membukanya. Tapi hanya dia yang paling beruntung karena mendapatkan peta dan kunci dari si bajak laut.

Aku sudah tidak sanggup untuk menangis lagi. Rasanya air mataku sudah habis. Aku membiarkan tubuhku melepas kotak itu. Aku berdiri. Berjalan menjauh. Berjalan menuju karang yang paling besar dan paling kasar di antara yang ada di sekeliling kotak itu. Aku memanjati karang itu lalu duduk diatasnya. Darah mengalir dari telapak tanganku. Aku hanya menatap telapak tanganku hampa. Perih dan sakit sudah tak terasa. Kalah oleh sakitnya hati ini. Aku mendapati hatiku sudah hancur menjadi serbuk. Sudah tidak dapat di perbaiki.

Aku memeluk lututku. Memandang hampa garis khatulistiwa. Aku bertahan disana dalam kondisi hampa. Merasakan teriknya matahari berganti dinginnya malam. Mereka sama-sama berusaha menyakitiku lebih.

Tidak ada komentar: